Pernah nggak sih kamu buka TikTok, lihat satu outfit yang lagi viral, terus besoknya semua orang di feed kamu pakai outfit yang persis sama?
Awalnya seru. Kamu beli. Kamu pakai. Kamu posting.
Tapi seminggu kemudian? Trennya udah ganti. Outfit yang kamu beli cuma nangkring di lemari. Nggak pernah dipakai lagi.
Kalau kamu ngerasa relate, kamu nggak sendirian. Dan itu bukan berarti kamu “nggak bisa keep up”. Justru sebaliknya. Kamu bagian dari pergeseran besar yang sedang terjadi di dunia fashion 2026.
JOMO: Ketika “Nggak Ikut Tren” Justru Terasa Melegakan
Ada istilah yang makin sering muncul: JOMO—Joy of Missing Out.
Kebalikan dari FOMO. Kalau FOMO itu rasa takut ketinggalan, JOMO itu rasa nyaman ketika memilih nggak ikut semua yang sedang ramai.
Alya, seorang Gen Z yang diwawancarai Kompas, cerita gimana dia dulu beli cardigan yang “modelnya hampir sama dengan yang sudah ada di lemari”. Alasannya? “Cuma karena semua orang lagi pakai itu.” Sekarang, dia kasih jeda dua minggu sampai satu bulan sebelum beli barang yang viral. Kalau setelah itu masih pengen dan masih butuh, baru beli.
Cerita Dimas, desainer grafis 25 tahun, juga mirip. Dulu dia rutin beli sneakers atau kaos yang ramai di media sosial karena takut dianggap nggak update. Sekarang? “Aku lebih bangga kalau bisa pakai satu sepatu sampai bertahun-tahun daripada punya banyak pasang tapi jarang dipakai”.
Ini bukan kemalasan. Ini kelelahan.
Psikolog Meity Arianty bilang FOMO muncul karena media sosial terus-menerus memperlihatkan kehidupan orang lain lewat “potongan terbaik mereka”. Paparan visual ini “memperdaya otak untuk mempersepsikan bahwa orang lain hidup lebih menyenangkan”, sehingga memicu rasa takut diabaikan kelompok.
Dan ketika seseorang berhenti mengejar semua tren? “Energi kognitif yang sebelumnya habis untuk mencari validasi dari luar kembali kepada dirinya sendiri”.
Data yang Bicara: Microtrends Mulai Kehilangan Momentum
Ini bukan cuma perasaan. Angkanya mendukung.
Sebuah survei McKinsey dari 2023 mengungkap 62% Gen Z perkotaan melaporkan kelelahan dengan kecepatan tren yang gila-gilaan. Mereka masih suka fashion. Tapi mereka capek sama siklusnya.
Trend forecasting firm WGSN mencatat bahwa lifespan micro-trends sudah menurun drastis selama dekade terakhir. Banyak yang “peaking and disappearing within weeks”. TikTok sendirian memperkenalkan ribuan label estetika baru setiap tahun.
Yang menarik: 80% Gen Z masih menemukan outfit mereka dari Instagram atau YouTube. Tapi lebih dari setengahnya merasa kewalahan.
Hasilnya? “De-influencing” jadi tren baru. Alih-alih bertanya “apa yang semua orang beli”, pertanyaannya berubah jadi: “apakah aku benar-benar butuh ini? Apakah aku sudah punya yang mirip? Apakah aku masih mau ini setelah trennya hilang?”
“Anti-Algorithm Dressing”: Ketika Pilihan Sadar Jadi Perlawanan
Ada nama untuk fenomena ini: anti-algorithm dressing.
Intinya sederhana. Kalau algoritma terus-menerus mendorong kamu ke arah yang sama—item yang sama, estetika yang sama, silhouette yang sama—maka memilih untuk tidak mengikuti itu jadi bentuk perlawanan.
ELLE Belgium mendeskripsikannya sebagai “sabotase feed”. Alih-alih membiarkan rekomendasi otomatis menentukan gaya, orang mulai mengambil kembali kontrol atas penampilan mereka.
Caranya macam-macam.
Vintage dan second-hand jadi pilihan utama. Bukan karena murah—walaupun itu bonus—tapi karena unik. Platform resale seperti Depop melihat lonjakan 46% year-on-year dalam pendaftaran global, dengan 87% pembeli di bawah usia 34.
Handmade dan craftsmanship juga naik. Bordir, tapestry stitches, visible repairs—semua yang dulu dianggap “kuno” sekarang jadi simbol perlawanan terhadap fast fashion.
Dan yang paling menarik: “personal style” sebagai pencarian. Frasa ini meledak di Google Trends pada 2025 dan mencapai puncak sepanjang masa pada Februari 2026.
Bukan Berarti Anti-Fashion
Penting untuk dipahami: Gen Z nggak berhenti peduli fashion.
Yang berubah adalah cara mereka mendekatinya.
Sebuah analisis dari Business of Fashion menyebut bahwa Gen Z sekarang “chasing a different phenomenon: uniqueness”. Mereka masih pengen tampil beda. Tapi bedanya bukan karena “gue pakai yang lagi viral sebelum orang lain”. Tapi karena “gue pakai yang gue pilih, dengan alasan yang gue pahami”.
Ini juga bukan berarti mereka menolak semua tren. Seperti yang ditulis Fibre2Fashion: “Consumers are still interested in fashion, but they are engaging with it in different ways. There is more intention behind what they buy”.
Microtrends nggak mati. Tapi siklusnya melambat. Dan yang lebih penting: konsumen jadi lebih selektif.
Kenapa Ini Terjadi Sekarang?
Ada beberapa faktor yang bertemu di satu titik.
Pertama, kelelahan digital. Gen Z menghabiskan lebih dari 7 jam sehari di depan layar. Mereka terus-menerus melihat diri mereka sendiri—di kamera depan, video call, konten sosial. Pakaian yang “terasa benar” jadi semacam regulasi emosional. Bukan performa. Tapi kenyamanan.
Kedua, tekanan ekonomi. Inflasi dan biaya hidup yang naik membuat konsumen lebih berhati-hati. “Constantly buying into new trends is not as realistic as it once was”. Memilih untuk nggak beli microtrend jadi keputusan finansial sekaligus lingkungan.
Ketiga, kesadaran lingkungan. Fast fashion menyumbang 10% dari total emisi karbon global dan jadi konsumen air terbesar kedua. Generasi yang tumbuh dengan narasi climate change nggak bisa mengabaikan ini.
Keempat, burnout dari “sameness”. Seperti yang dikatakan Hillary Taymour dari Collina Strada: “You become whatever your algorithm feeds you. Within the phone, it’s quite limiting”. Ketika semua orang melihat konten yang sama, membeli produk yang sama, dan memakai outfit yang sama, individualitas jadi komoditas langka.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Kesalahan #1: Mikir “anti-tren” berarti harus aneh.
Nggak. Personal style bukan tentang memakai sesuatu yang mencolok atau aneh. Ini tentang memakai sesuatu yang konsisten dengan siapa kamu. Bisa jadi itu kaos putih dan jeans. Yang penting: kamu yang memilih, bukan algoritma.
Kesalahan #2: Langsung buang semua baju “trendy”.
Nggak perlu. Banyak item tren yang sebenarnya bisa dipadukan dengan gaya personal kamu. Yang perlu diubah bukan barangnya, tapi cara kamu memilih dan memakainya.
Kesalahan #3: Mikir personal style bisa dibentuk dalam semalam.
Ini proses. Butuh eksperimen. Butuh trial and error. Butuh waktu untuk tahu apa yang kamu suka, bukan apa yang algoritma bilang kamu suka.
Kesalahan #4: Mengabaikan kenyamanan.
Seperti yang ditulis DRESSX: Gen Z “rarely talking about softness alone. They’re talking about not being hyper-aware of their body all day”. Kalau pakaian membuat kamu terus-menerus sadar diri, itu bukan personal style. Itu performance.
Tips Praktis untuk Kamu
Pertama, terapkan “jeda 2 minggu”.
Sebelum beli item yang viral, tunggu dua minggu. Kalau setelah itu kamu masih pengen, dan kamu bisa bayangkan minimal 5 outfit yang bisa kamu buat dengan item itu, baru pertimbangkan. Kalau nggak, skip.
Kedua, mulai dari lemari sendiri.
Sebelum beli baru, lihat apa yang sudah kamu punya. Fibre2Fashion mencatat bahwa konsumen “paying more attention to what they already own and what they actually wear”. Coba mix and match. Kamu mungkin nemu kombinasi yang belum pernah kamu coba.
Ketiga, cari di second-hand dulu.
Depop, Vinted, atau toko thrift lokal. 87% pembeli Depop di bawah 34 tahun. Kamu nggak sendirian. Dan kamu mungkin nemu sesuatu yang nggak akan pernah kamu lihat di mall.
Keempat, fokus pada “cost per wear”.
Item Rp 150 ribu yang dipakai 15 kali lebih “murah” dari item Rp 600 ribu yang dipakai 2 kali. Hitung bukan dari harga beli, tapi dari berapa sering kamu pakai.
Kelima, kenali dirimu.
Ini yang paling susah. Tapi paling penting. Apa yang kamu suka? Bukan apa yang orang lain suka. Bukan apa yang algoritma bilang kamu suka. Coba eksperimen. Coba gagal. Coba lagi.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Fashion Oktober 2026 bukan tentang tren baru yang menggantikan tren lama. Ini tentang pergeseran cara berpikir.
Dari “apa yang lagi viral” ke “apa yang gue suka”.
Dari “apa yang orang lain pakai” ke “apa yang gue nyaman pakai”.
Dari “beli karena takut ketinggalan” ke “beli karena gue memang butuh”.
Gen Z nggak bosan fashion. Mereka bosan dikontrol.
Dan ketika semua orang bisa memakai tren yang sama, menjadi berbeda bukan lagi tentang punya sesuatu yang belum dimiliki orang lain. Tapi tentang memilih dengan sadar, dan memakainya dengan percaya diri.
Pertanyaannya bukan “tren apa yang lagi in”. Pertanyaannya: kalau algoritma mati besok, kamu masih tahu apa yang kamu suka?



